JABATAN ADALAH AMANAH, TANGISAN RAKYAT AKAN MENJADI PERTANYAAN DI HADAPAN ALLAH



Comparative Study: Ketika Kepemimpinan Umar bin Khattab Dibandingkan dengan Realitas Pemimpin Hari Ini

Oleh: H. Syahrir Nasution

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mari sejenak kita tarik diri kita ke dalam realitas kehidupan hari ini.

Kita bertanya kepada hati dan nurani kita masing-masing: adakah pemimpin kita saat ini yang benar-benar memiliki keberanian, kesederhanaan, kepedulian dan rasa takut kepada Allah seperti yang ditunjukkan Umar bin Khattab?

Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi siapa pun.

Ini adalah sebuah cermin.

Sebab semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula amanah yang dipikulnya. Dan semakin besar amanah yang diberikan, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Umar bin Khattab adalah salah satu contoh kepemimpinan yang selalu dikenang dalam sejarah Islam. Bukan semata-mata karena kekuasaannya yang luas, tetapi karena rasa takutnya kepada Allah ketika memegang kekuasaan.

Ia memahami bahwa menjadi pemimpin bukanlah kesempatan untuk menikmati fasilitas, kehormatan dan kekuasaan.

Sebaliknya, kepemimpinan adalah beban yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Umar dan Rasa Takut kepada Allah

Salah satu kisah yang sering menjadi pelajaran adalah ketika Umar bin Khattab berkata bahwa apabila ada seekor keledai terperosok di jalan wilayah kekuasaannya, ia takut Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya karena tidak memperbaiki jalan tersebut.

Terlepas dari variasi redaksi riwayat yang berkembang dalam literatur sejarah, pesan moral dari kisah tersebut sangat kuat:

Seorang pemimpin harus merasa bertanggung jawab bahkan terhadap penderitaan rakyat yang mungkin tidak pernah ia temui secara langsung.

Bayangkan.

Hari ini seorang rakyat miskin kesulitan mendapatkan pelayanan.

Ada masyarakat yang rumahnya kebanjiran.

Ada jalan rusak bertahun-tahun.

Ada anak-anak yang kesulitan memperoleh pendidikan.

Ada masyarakat yang mengeluhkan harga kebutuhan pokok.

Ada rakyat kecil yang berhadapan dengan birokrasi berbelit-belit.

Ada orang yang merasa hukum begitu tajam kepada mereka yang lemah, tetapi terasa tumpul ketika berhadapan dengan mereka yang memiliki kekuasaan dan pengaruh.

Apakah semua itu hanya menjadi persoalan rakyat?

Ataukah juga menjadi persoalan pemimpin?

Di sinilah perbandingan dengan Umar bin Khattab menjadi penting.

Umar Tidak Takut Kehilangan Jabatan

Umar tidak menjadikan jabatan sebagai simbol kemuliaan pribadi.

Ia justru memandang jabatan sebagai amanah yang sangat berat.

Seorang pemimpin yang benar-benar memahami amanah tidak akan bertanya:

"Apa yang bisa saya dapatkan dari jabatan ini?"

Tetapi ia akan bertanya:

"Apa yang sudah saya berikan kepada rakyat melalui jabatan ini?"

Itulah perbedaan mendasar antara kekuasaan sebagai fasilitas dan kekuasaan sebagai pengabdian.

Jabatan boleh tinggi.

Mobil boleh bagus.

Kantor boleh megah.

Pengawal boleh banyak.

Pakaian boleh mahal.

Tetapi semua itu tidak akan mempunyai arti apabila rakyat yang dipimpin masih menangis karena ketidakadilan, kemiskinan, pelayanan buruk dan ketidakberdayaan.

Karena pada akhirnya, yang dibawa seseorang menghadap Allah bukanlah mobil dinasnya.

Bukan rumah dinasnya.

Bukan gelarnya.

Bukan jumlah bawahannya.

Bukan pula berapa lama ia duduk di kursi kekuasaan.

Yang akan dipertanyakan adalah amanahnya.

Lalu, Bagaimana dengan Kita Hari Ini?

Inilah bagian yang paling penting dari comparative study ini.

Mari kita berhenti sejenak memandang sejarah hanya sebagai cerita masa lalu.

Kita tarik sejarah itu ke dalam kehidupan kita hari ini.

Adakah pemimpin kita yang mau berjalan melihat langsung penderitaan rakyat tanpa protokoler yang berlebihan?

Adakah yang benar-benar gelisah ketika rakyatnya tidak mendapatkan hak pelayanan?

Adakah yang tidak bisa tidur ketika mengetahui masih ada rakyatnya yang kelaparan?

Adakah yang merasa takut menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi?

Adakah yang berani mengatakan tidak kepada orang-orang di sekelilingnya ketika kepentingan rakyat terancam?

Dan yang paling penting:

Adakah pemimpin yang ketika memperoleh kekuasaan justru semakin takut kepada Allah, bukan semakin takut kehilangan kekuasaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan ditujukan kepada satu orang.

Pertanyaan ini untuk kita semua.

Karena pemimpin lahir dari masyarakat.

Dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memilih, mengawasi serta mengingatkan pemimpinnya.

Jangan Jadikan Jabatan Sebagai Tujuan Hidup

Ada kecenderungan dalam kehidupan modern bahwa jabatan dipandang sebagai prestise.

Semakin tinggi jabatan, semakin tinggi pula status sosial.

Akibatnya, perebutan kekuasaan terkadang berubah menjadi perebutan kepentingan.

Padahal dalam perspektif Islam, jabatan bukanlah hadiah.

Jabatan adalah amanah.

Bahkan jabatan dapat menjadi musibah apabila seseorang tidak mampu menjalankannya dengan adil.

Karena itu, seorang pemimpin seharusnya memiliki tiga ketakutan:

Takut kepada Allah.
Takut menzalimi rakyat.
Takut mempertanggungjawabkan amanah.

Bukan hanya takut kepada kritik.

Bukan hanya takut kehilangan popularitas.

Bukan hanya takut kehilangan kursi.

Tangisan Rakyat Tidak Hilang Begitu Saja

Ada satu kalimat yang patut kita renungkan:

"Tangisan rakyat mungkin tidak terdengar di ruang rapat, tetapi tangisan itu tidak akan pernah hilang dari pengadilan Allah."

Rakyat mungkin tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

Rakyat mungkin tidak memiliki akses kepada penguasa.

Rakyat mungkin hanya mampu mengeluh kepada tetangga.

Bahkan mungkin hanya mampu menangis dalam kesunyian.

Tetapi Allah SWT mengetahui semuanya.

Karena itu, seorang pemimpin jangan merasa aman hanya karena tidak ada demonstrasi.

Jangan merasa benar hanya karena tidak ada yang berani mengkritik.

Jangan merasa berhasil hanya karena laporan bawahannya terlihat baik.

Sebab realitas rakyat kadang jauh berbeda dengan laporan yang sampai ke meja seorang pemimpin.

Pemimpin yang baik tidak hanya mendengar laporan dari bawahannya. Ia turun melihat kenyataan.

Inilah salah satu pelajaran penting dari kepemimpinan Umar bin Khattab.

Kita Tidak Sedang Mencari Umar Kedua

Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa zaman sekarang harus melahirkan Umar bin Khattab kedua.

Setiap zaman memiliki persoalan dan tantangannya sendiri.

Tetapi nilai-nilai kepemimpinan Umar bin Khattab tetap relevan untuk dijadikan ukuran moral.

Kejujuran.

Kesederhanaan.

Keberanian.

Keadilan.

Kepedulian terhadap rakyat.

Ketegasan terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Dan yang paling utama, rasa takut kepada Allah SWT.

Inilah yang seharusnya kita cari dalam diri seorang pemimpin.

Bukan sekadar kemampuan berbicara.

Bukan sekadar kemampuan membangun citra.

Bukan sekadar banyaknya baliho.

Bukan sekadar banyaknya penghargaan.

Tetapi apakah kebijakannya benar-benar menghadirkan keadilan dan kemaslahatan bagi rakyat?

Kesimpulan: Kita Membutuhkan Kepemimpinan yang Takut kepada Allah

Maka, apabila setelah kita melakukan perbandingan secara jujur ternyata kita tidak menemukan satu pun sosok yang memiliki seluruh keteladanan Umar bin Khattab, jangan berhenti pada kekecewaan.

Jadikan itu sebagai bahan introspeksi.

Kita membutuhkan pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan bukan milik pribadi.

Kita membutuhkan pemimpin yang mau mendengar suara rakyat.

Kita membutuhkan pemimpin yang berani memberantas ketidakadilan.

Kita membutuhkan pemimpin yang tidak memperkaya diri melalui jabatan.

Kita membutuhkan pemimpin yang tidak menjadikan rakyat sekadar angka dalam laporan.

Dan terutama, kita membutuhkan pemimpin yang menyadari bahwa di atas kekuasaan manusia masih ada kekuasaan Allah SWT.

Sebab pada akhirnya setiap kursi akan ditinggalkan.

Setiap jabatan akan berakhir.

Setiap kekuasaan akan berpindah.

Tetapi pertanggungjawaban di hadapan Allah tidak akan pernah berakhir.

Maka sebelum seorang pemimpin meminta rakyat menghormatinya, hendaknya ia terlebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri:

"Sudahkah saya menghormati amanah yang diberikan Allah kepada saya?"

Sebab jabatan bukanlah kemuliaan apabila digunakan untuk menindas.

Jabatan bukanlah kehormatan apabila digunakan untuk memperkaya diri.

Jabatan bukanlah keberhasilan apabila rakyat yang dipimpin masih menangis.

Jabatan adalah amanah.

Dan setiap amanah akan dipertanyakan.

Bukan hanya oleh rakyat.

Tetapi oleh Allah SWT.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

H. SYAHRIR NASUTION

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama