Jakarta — Fenomena astronomi aphelion yang terjadi setiap awal Juli kembali menjadi perbincangan publik. Sejumlah pesan berantai di media sosial menyebutkan bahwa aphelion menyebabkan Matahari menjauh dari Bumi hingga memicu penurunan suhu ekstrem serta meningkatkan risiko penyakit seperti flu dan sesak napas. Informasi tersebut dipastikan tidak benar dan menyesatkan.
Aphelion merupakan peristiwa alam saat Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari dalam orbit elipsnya. Fenomena ini terjadi rutin setiap tahun, umumnya pada awal Juli. Saat aphelion, jarak Bumi–Matahari sekitar 152 juta kilometer, hanya berbeda sekitar 2,5 juta kilometer dari jarak rata-ratanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa aphelion tidak berdampak signifikan terhadap suhu udara di Indonesia. Penurunan radiasi Matahari akibat fenomena ini hanya sekitar 3 persen, sehingga tidak cukup kuat untuk menyebabkan perubahan cuaca ekstrem.
“Cuaca dan suhu di Indonesia lebih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, seperti angin muson, tutupan awan, curah hujan, serta kondisi laut, bukan oleh jarak Bumi dengan Matahari,” jelas BMKG dalam sejumlah penjelasan ilmiahnya.
Indonesia yang berada di wilayah tropis tetap menerima paparan sinar Matahari relatif stabil sepanjang tahun. Oleh karena itu, klaim bahwa aphelion menyebabkan udara menjadi dingin hingga memicu gangguan kesehatan dinilai tidak memiliki dasar ilmiah.
Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan dengan pola hidup bersih dan sehat, mencukupi asupan cairan, serta mengonsumsi makanan bergizi. Namun, imbauan tersebut bersifat umum dan tidak berkaitan langsung dengan fenomena aphelion.
Masyarakat juga diminta lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial, terutama pesan berantai tanpa sumber resmi. Penyebaran informasi keliru dikhawatirkan dapat menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.
Dengan demikian, fenomena aphelion adalah peristiwa astronomi tahunan yang normal dan tidak berbahaya, serta tidak menyebabkan penurunan suhu ekstrem di Indonesia.

Posting Komentar