Cukup Sudah Menjadi Manusia: Sebuah Satire untuk Negeri yang Kehilangan Rasa



Oleh: H Syahrir Nasution

"Bu, apakah surga itu jauh?"

Pertanyaan sederhana dari seorang anak dalam sebuah lagu mampu mengguncang hati banyak orang. Bukan karena rumitnya makna yang terkandung di dalamnya, melainkan karena kesederhanaan itu justru menampar kenyataan yang sedang kita hadapi hari ini.

Di negeri yang kaya akan pidato moral, seminar integritas, dan slogan-slogan kemanusiaan, pertanyaan itu terdengar semakin asing. Surga seakan menjadi tujuan yang sering dibicarakan, tetapi jarang ditempuh melalui jalan yang benar.

Ironisnya, kita hidup di zaman ketika banyak orang ingin terlihat hebat, terhormat, dan berkuasa, tetapi lupa bagaimana caranya menjadi manusia.

Negeri yang Dipenuhi Topeng

Setiap hari rakyat disuguhi pertunjukan yang hampir serupa. Ada pejabat yang berbicara tentang pengabdian sambil memperkaya diri. Ada wakil rakyat yang mengaku memperjuangkan suara masyarakat, namun lebih sibuk memperjuangkan kepentingan kelompoknya. Ada tokoh yang berkhotbah tentang kejujuran, tetapi diam ketika melihat ketidakadilan.

Mereka tersenyum di depan kamera, berjabat tangan di atas panggung, mengucapkan kata-kata indah tentang rakyat dan bangsa. Namun ketika lampu sorot padam, wajah kemanusiaan itu ikut menghilang.

Seolah-olah menjadi manusia yang sesungguhnya jauh lebih sulit daripada menjadi pejabat, pengusaha, tokoh, atau pemimpin.

Padahal, sebelum menjadi apa pun, seseorang terlebih dahulu harus menjadi manusia.

Ketika Jabatan Lebih Penting dari Nurani

Dalam satire kehidupan modern, jabatan sering dianggap tiket menuju kehormatan. Gelar dianggap ukuran kebijaksanaan. Kekuasaan dianggap bukti keberhasilan.

Akibatnya, banyak orang rela mengorbankan rasa malu, kejujuran, bahkan hati nurani demi mempertahankan kursi dan pengaruh.

Mereka lupa bahwa sejarah tidak selalu mencatat siapa yang paling lama berkuasa, tetapi selalu mengingat siapa yang paling banyak menyakiti rakyatnya.

Di tengah kemewahan ruang rapat dan megahnya gedung pemerintahan, terkadang suara seorang ibu yang menangis karena anaknya lapar jauh lebih mulia daripada seribu pidato politik.

Namun suara itu sering tenggelam oleh tepuk tangan para penjilat kekuasaan.

Cukup Sudah Menjadi Manusia

Barangkali inilah pesan paling dalam yang tersirat dari lagu yang membuat banyak mata basah itu.

Kita tidak perlu menjadi malaikat.

Kita tidak perlu menjadi pahlawan besar.

Kita tidak perlu menjadi orang paling kaya atau paling berkuasa.

Cukup sudah menjadi manusia.

Manusia yang masih memiliki rasa malu ketika berbuat salah.

Manusia yang masih mampu menangis melihat penderitaan sesama.

Manusia yang tidak menjual keadilan demi keuntungan.

Manusia yang tidak menggadaikan nurani demi jabatan.

Manusia yang tidak menggunakan agama sebagai topeng untuk menutupi keserakahan.

Karena sesungguhnya, krisis terbesar negeri ini bukan kekurangan orang pintar, melainkan kekurangan manusia yang benar-benar manusia.

Pertanyaan yang Harus Dijawab

Maka pertanyaan "Bu, apakah surga itu jauh?" sebenarnya bukan hanya ditujukan kepada seorang ibu.

Pertanyaan itu ditujukan kepada kita semua.

Kepada para pemimpin.

Kepada para wakil rakyat.

Kepada para penegak hukum.

Kepada para tokoh agama.

Kepada siapa saja yang masih mengaku memiliki hati nurani.

Apakah surga itu jauh?

Mungkin tidak.

Yang jauh adalah ketika manusia semakin jauh dari kemanusiaannya sendiri.

Dan ketika nurani telah mati, maka yang tersisa hanyalah tubuh manusia yang berjalan dengan topeng-topeng kepentingan.

Karena pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang hebat.

Dunia hanya membutuhkan lebih banyak manusia yang tetap manusia.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama