MEDAN – Pemikir sosial Islam, Asren Nasution, mengingatkan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual yang berakhir saat jamaah kembali ke Tanah Air. Lebih dari itu, haji harus melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Asren Nasution melalui materi refleksi bertajuk "Selamat Datang, Haji = Perubahan", yang mengajak para hujjaj memahami makna mendalam dari kemabruran haji.
Dalam paparannya, Asren mengangkat kisah orientalis Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje, yang pernah menyamar sebagai seorang Muslim bernama Abdul Ghaffar untuk meneliti kehidupan umat Islam di Tanah Suci. Dari pengamatannya, Snouck menemukan fakta bahwa banyak umat Islam yang pulang dari ibadah haji mengalami perubahan sosial yang signifikan.
"Pertanyaan yang menarik bukan hanya bagaimana seseorang berangkat haji, tetapi bagaimana ia pulang dan membawa perubahan bagi lingkungannya," ungkap Asren.
Menurutnya, hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa haji mampu memperkuat solidaritas umat, mempererat persaudaraan, menumbuhkan semangat gotong royong, meningkatkan kecintaan kepada bangsa dan negara, serta membangkitkan keberanian melawan berbagai bentuk ketidakadilan.
Asren menegaskan bahwa fenomena ini menjadi perhatian serius pemerintah kolonial Belanda pada masa itu. Sebab, para jamaah haji yang kembali ke tanah air sering menjadi motor penggerak kebangkitan masyarakat dan perjuangan kemerdekaan.
"Haji melahirkan manusia yang tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Mereka tidak hanya berubah secara pribadi, tetapi juga menjadi agen perubahan bagi keluarga dan komunitasnya," katanya.
Ia menambahkan bahwa semangat haji sejatinya adalah semangat persatuan, solidaritas sosial, kepedulian, pengorbanan, dan kebersamaan. Nilai-nilai tersebut harus terus hidup setelah seluruh rangkaian ibadah selesai dilaksanakan.
Karena itu, gelar haji mabrur tidak boleh dipahami sebagai simbol status sosial atau kebanggaan pribadi semata. Kemabruran harus tercermin dalam kontribusi nyata bagi masyarakat.
"Haji mabrur bukan sekadar gelar pribadi, melainkan haji yang menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, bangsa, dan spirit keindonesiaan," tegas Asren.
Ia juga mengajak para jamaah yang baru kembali dari Tanah Suci untuk terus menebarkan manfaat, memperkuat ukhuwah, menjaga integritas, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menutup refleksinya, Asren menyampaikan pesan kepada para hujjaj agar menjadikan pengalaman spiritual di Makkah dan Madinah sebagai energi perubahan yang berkelanjutan.
"Selamat datang kembali di Tanah Air. Teruslah memberi yang terbaik untuk negeri ini," pungkasnya.
Pesan utama yang ditekankan Asren Nasution:
Haji harus melahirkan perubahan perilaku dan kepedulian sosial.
Semangat haji adalah semangat persatuan dan solidaritas umat.
Jamaah haji harus menjadi penggerak kebaikan di tengah masyarakat.
Kemabruran diukur dari manfaat dan dampak nyata bagi lingkungan.
Haji merupakan momentum memperkuat kecintaan kepada bangsa, negara, dan nilai-nilai kebersamaan.
Dengan pesan tersebut, Asren Nasution berharap para hujjaj Indonesia tidak hanya membawa oleh-oleh dari Tanah Suci, tetapi juga membawa semangat perubahan yang mampu memperkuat persatuan umat dan memajukan bangsa.


Posting Komentar